Coporn, Generasi Terbaru Popcorn Lezat plus Sehat

nanana copy

            Akhir pekan selalu saja dianggap waktu yang paling tepat untuk jalan-jalan, atau sekedar melewatkan waktu bersama keluarga dan sahabat. Nah, mengisi akhir pekan kali ini saya berencana untuk piknik dengan beberapa kawan. Sayangnya, pagi-pagi sekali gerimis sudah menghujani bumi Pasuruan. Jadilah rencana batal dan berakhir dengan hanya leyeh-leyeh di dalam rumah. Dalam keadaan bête, iseng-iseng saya membuka laptop. Mengobrak-abrik folder untuk menemukan film yang bagus untuk menghibur diri.

Tak sampai sepuluh menit saya menjatuhkan pilihan pada film korea yang seingat saya banyak direkomendasikan teman-teman. Jadilah, akhir pekan kali ini fix saya habiskan dengan menonton film. Persiapan pun saya lakukan, posisi disiapkan, lampu dimatikan agar efek nuansa bioskop mulai terasa. Untuk melengkapi suasana bioskop di kamar, saya mengambil beberapa bungkus popcorn yang ada di dapur. Maklum, selama bulan januari saya memang sengaja menyetok persediaan popcorn. Karena Januari yang identik dengan hujan sehari-hari memang harus diantisipasi. Pasalnya, setiap kali hujan datang, perasaan pengen ngemil juga ikut-ikutan datang.

Ngomong-ngomong masalah cemilan, saya termasuk yang pilih-pilih. Ini bermula dari kesadaran untuk hidup sehat yang tidak lepas dari pola makan sehat. Untungnya saat ini sudah ada yang namanya Coporn, singkatan dari Chocolate Popcorn. Camilan ini sungguh istimewa buat saya. Kenapa? Karena eh karena…

Merupakan Generasi Terbaru Popcorn Manis

Coporn merupakan varian terbaru dari popcorn manis. Kebanyakan di pasaran, popcorn manis yang tersedia hanya varian caramel dan vanila. Nah, Coporn merupakan generasi terbaru yang mengusung tema popcorn dilapisi coklat dengan tiga varian rasa. Variasi rasanya pun unik, yaitu green tea, banana, dan tiramisu.

na

Menghadirkan Sensasi Waw di Lidah Continue reading

Uniknya  Bakso Ala-Ala Pulau Tagulandang

 

Bakso adalah salah satu makanan yang populer dan hampir disukai semua kalangan di Indonesia. Mulai dari dedek-dedek gemes sampai mami-papi ngehits pastinya doyan makanan berkuah ini. Saking populernya, kita akan mudah menemukan stand-stand penjual bakso di setiap sudut bumi pertiwi.  Namun, di tiap daerah di tanah air, komposisi dan rasa bakso berbeda-beda. Tentunya karena selera lidah tiap-tiap suku di negeri kita pun berbeda. Nah, kali ini saya akan membahas komposisi penyajian bakso ala Pulau Tagulandang. Pulau yang berada di Ujung Utara Provinsi Sulawesi Utara ini menyajikan bakso dengan tampilan dan rasa yang khas.

uniknya bakso

 

Bahan Dasar Bakso

Bakso di pulau ini kebanyakan di buat dari daging ikan. Ikan yang dipakai untuk membuat bakso pun bermacam-macam dari Ikan Deho (biasanya deho putih) sampai Ikan Cakalang. Jarang sekali ditemukan bakso berbahan dasar daging sapi. Alasannya, stok daging sapi hampir tidak ada di pulau ini. Pun kalau ada, kita harus membelinya dari pusat Kota Manado, yang hanya bisa ditempuh dengan kapal laut. Harga daging pun hampir dua kali lipat dari harga di Pulau Jawa. Sehingga, warga sulit menjangkau dan lebih memilih memakai bahan dasar ikan.

Bagi orang yang pertama kali menikmati bakso ikan, pasti merasa aneh. Karena aroma dan rasa ikan akan dominan di mulut. Teksturnya pun lebih lembut saat digigit, ini karena daging ikan tidak berserat seperti halnya daging sapi.

Kuah yang Super Kental

Kalau bakso-bakso di Pulau Jawa identik dengan kuahnya yang bening, maka kuah bakso di Pulau Tagulandang sangat berbeda. Kuahnya berwarna kekuningan, hasil perpaduan banyak bumbu dan daun-daunan. Pun terlihat mengkilat karena minyak yang dicampurkan. Aromanya pun menusuk hidung dan kuat terasa di mulut kita. Continue reading

Tinutuan : Lezat, Sehat, dan Ngehits di Dunia

Tinutuan, atau yang lebih dikenal dengan nama hitsnya “Bubur Manado” adalah makanan khas yang berasal dari Sulawesi Utara. Meski berakhiran dengan kata Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, namun makanan ini tidak hanya terdapat di sekitaran kota Manado. Makanan ini mudah ditemui hampir di ratusan pulau yang ada di Sulawesi Utara. Saya pribadi pertama kali mencicipi bubur ini bukan di Kota Manado. Melainkan di sebuah pulau kecil di ujung utara provinsi ini, yaitu Pulau Tagulandang.

Foto5194

Lezat : Menikmati Tinutuan Buatan Penduduk Asli Pulau Tagulandang

Menjadi salah satu peserta program SM3T (Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun di Pulau Tagulandang membuat saya bersinggungan dengan Tinutuan. Tidak hanya bisa makan bubur ini sesering mungkin, saya juga berkesempatan belajar memasak sendiri bubur ini dari warga asli pulau. Berikut beberapa hal yang saya temukan terkait Tinutuan

Nama Lain dari Tinutuan

Selain dikenal dengan nama Bubur Manado, Tinutuan juga mempunyai beberapa nama yang cukup populer. Di antaranya adalah:

  1. Bubur Sehat

Tinutuan disebut dengan bubur sehat karena di dalam bubur ini terdapat bahan-bahan yang mengandung vitamin, mineral, dan serat yang sangat menyehatkan. Bahan-bahan pembuatannya terdiri dari berupa-rupa sayuran hijau seperti bayam, daun gedi, kangkung, daun kunyit dan daun sereh yang banyak mengandung vitamin A dan C. Selain itu, sumber karbohidrat tersusun dari labu kuning, singkong, ubi jalar, dan beras yang juga kaya akan gizi dan serat.

Karena sebutan bubur sehat ini pula, Tinutuan kerap dikonsumsi saat seseorang sedang dalam kondisi tidak fit. Selain itu, bubur ini baik dikonsumsi saat kita tengah menjalani program diet. Tentu saja, karena dalam bubur ini tidak terdapat daging atau lemak jahat yang dapat mengendap dalam tubuh. Di Pulau Tagulandang sendiri, ibu-ibu memberikan Tinutuan yang seluruh bagiannya dihaluskan untuk makanan bayi.

  1. Bubur Persaudaraan

Tinutuan sering pula dijuluki bubur persaudaraan. Alasannya, tidak lain karena bubur ini hampir selalu dihidangkan sebagai jamuan di berbagai acara yang diadakan warga sekitar. Berbagai kelompok masyarakat di Sulawesi Utara menjadikan bubur ini sebagai menu hidangan yang diyakini dapat merekatkan persaudaraan dan pergaulan.

  1. Campur

Nama ini populer di kalangan masyarakat Manado dan sekitarnya. Warga asli Sulawesi Utara, lebih sering menyebut bubur ini sebagai campur. Sebutan ini tidak lain karena semua bahan dicampur menjadi satu saat memasaknya. Selain itu, penyajiannya dalam mangkuk atau piring juga tercampur tanpa ada satu pun bahan yang dipisahkan.

Sejarah Tinutuan

Berdasarkan cerita yang saya dapat dari Ibu Herce Kangiras (Warga asli pulau yang berusia 83 tahun), Tinutuan sudah dibuat saat jaman penjajahan Belanda. Ibu delapan anak ini mengisahkan bahwa saat penjajahan Belanda, kondisi ekonomi warga jatuh dalam tingkatan terendah. Karena banyak peperangan di mana-mana, maka rakyat tidak sempat untuk keluar sekedar membeli bahan makanan atau mengambilnya di kebun. Tertekan keadaan itu, maka para ibu hanya memetik segala sayur-mayur dan ubi-ubian yang ada di kebun sekitaran rumahnya. Continue reading