Tips Sukses Menjadi Pengusaha, Pemanah, dan Pendidik (Ala Kausarin Diawan Putri )

 

 

IMG-20160124-WA0002

Bahagia : Puput Memamerkan Hasil Kue Buatannya (Dokumen Pribadi Puput)

Bagi penggemar cup cake, kue, dan coklat di area Malang dan sekitarnya tentunya tidak asing lagi dengan Dhoco. Kepanjangan dari de house of chocholate. Sebuah usaha yang melayani penjualan dan pemesanan kue dan coklat unik nan lezat. Siapa sangka, founder usaha yang ada di Malang dan Surabaya ini adalah gadis muda yang baru berusian 21 tahunan.

Dialah Kausarin Diawan Putri, yang biasa dipanggil Puput dalam kesehariannya. Usaha kue coklat itu, ternyata berawal dari sebuah tugas kuliah saat ia masih duduk di bangku universitas. Tak disangka, keunikan hasil presentasi kue buatannya dalam tugas membuat banyak dosen dan teman sesama mahasiswa tertarik. Jadilah beberapa orang mulai minta dibuatkan kue pada Puput untuk beragam acara. Dari sinilah hingga akhirnya Puput memberanikan diri membuka usaha yang dinamakan de house of chocolate itu.

Perlahan tapi pasti, usaha kue coklatnya mulai dikenal banyak orang. Kecintaannya mengolah coklat yang sudah tertanam sejak kecil membuatnya tidak pernah lelah. Pun, melihat kepuasan pelanggan saat mendapat apa yang diinginkan membuat Puput bahagia. Apalagi kebanyakan kue yang ia kerjakan merupakan kue yang digunakan sebagai pemanis berbagai perayaan. Sehingga, tidak hanya dari segi bisnis, dari segi hati pun ia merasa untung. Untung karena membuat momen ulang tahun, perayaan kelahiran, pernikahan, atau ucapan bahagia lainnya tersampaikan lewat kue buatannya. “Dengan kata lain, saya tidak murni berbisnis tapi juga berbagi kebahagiaan, “ jelas Puput.

IMG-20160124-WA0003

Proses Pembuatan Cup Cake (Dokumen Pribadi Puput)

Tidak hanya mengurusi usaha kue coklat, perempuan yang terkenal kalem ini pun ternyata didapuk oleh KONI Malang sebagai pelatih atlet olahraga memanah. Karena pribadinya yang humble, tak banyak yang tahu bahwa gadis pengguna hijab ini ternyata telah meraih beberapa kejuaraan memanah. Di antaranya, peraih juara I memanah pada Porprov Jatim tahun 2013 kategori beregu. Dan Juara II Porprov tunggal jarak 50 m Jatim tahun 2013. Selain di KONI Malang, Puput pun menularkan ilmu memanahnya di SDN Lowokwaru 3.

Nah, kiprah perempuan alumni Universitas Muhammadiyah Malang itu rupanya tidak berhenti dengan kue coklat dan busur panah saja. Pasalnya, setelah diwisuda di bulan Mei tahun 2015 (kurang dari 4 tahun kuliah), Puput langsung dipercaya sebagai dosen tidak tetap di universitas tempatnya belajar dulu.  Meski setengah tidak percaya, anak kedua dari lima bersaudara ini pun bersyukur atas kesempatan yang diberikan. “Saya lulusnya bulan Mei 2015, setelah resmi diwisuda, tiba-tiba ditawari mengajar di semester baru tahun itu juga,” tuturnya menanggapi interview saya lewat Aplikasi Whatassp. Continue reading

Advertisements

7 TIPS MENGEMAS ‘GALAU’ DENGAN ELEGAN

tujuh tips mengemas galau

Tulisan kali ini terinspirasi dari curhatan seorang teman yang bertanya bagaimana agar kegalauan tidak sampai merugikan. Pasalnya, galau itu enggak enak buat diri kita. Nah, ditambah lagi kalau kita salah menyikapi si galau ini. Imbasnya malah bukan hanya merugikan pribadi kita. Tentunya berpengaruh pada pekerjaan, teman sekitar, dan hal lain yang boleh jadi penting bagi hidup kita.

Pertanyaannya, kenapa galau kita harus dikemas menjadi sesuatu yang elegan?. Saya mencoba menjawab dengan salah satu quotes Mario Teguh. Pak Mario berkata, “Galau yang menuju elegan disebut pendewasaan. Galau yang menuju norak disebut peng-alay-an”. Nah, umur semua orang tiap harinya bertambah tua. Seyogyanya kita segera menuju pendewasaan untuk mencapai tujuan hidup. Bukan malah menjadi alay yang identik dengan ABG. Bener kan?

Nah, berikut tips mengemas galau menjadi sesuatu yang elegan:

Hindari curhat bebas di sosial media.

Blak-blakan menyatakan kesedihan tentang pekerjaan, perasaan, atau apapun di sosial media sebaiknya dihindari. Karena, tiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Memposting suatu masalah/curhatan/kekecewaan yang ditujukan pada orang lain atau kelompok orang di sosial media menunjukkan kesan kurang dewasanya sikap kita. Karena perlu diingat, banyak sekali orang yang membaca postingan kita. Dan berapa banyak pemikiran yang muncul dari tiap orang. Tentu tidak semuanya positif, celakalah jika mereka malah dominan mempunyai persepsi negative pada kita.

Sibukkan Diri dengan Mengasah Kemampuan

Menyibukkan diri untuk membenahi kemampuan kita. Lampiaskan kegalauan kita pada pekerjaan atau keahlian yang kita miliki. Misalnya menciptakan lagu, melukis, menulis cerita, stand up comedy, berolahraga, dan lain sebagainya. Bahkan kalau bisa, ukir prestasi dari hal-hal tersebut. Banyak tokoh yang melahirkan karya dengan dilatarbelakangi kegalauan yang tak terperikan. Misalnya Raditya Dika, penulis, sutradara, stand up comedian, sekaligus aktor, yang mengawali karirnya dengan menulis kegalauannya akibat patah hati. Atau J.K. Rowling yang menulis serial ngehits Harry Potter di tengah kegalauannya hidupnya yang luar biasa.

Berpetualang

Orang yang galau cenderung mengurung diri dalam kamar sambil menangis mendengar lagu sedih. Nah, padahal mengurung diri seperti itu lebih mengundang kenangan-kenangan yang membuat kita galau. So, lebih baik kita keluar dari rumah untuk berpetualang.

perrjalanan

Karena petualangan akan mengantarkan kita pada banyak hal. Pertama, keindahan alam yang harus kita syukuri. Karena selama nafas kita berhembus, artinya Tuhan selalu menyanyangi dan beserta kita. Kedua, petualangan akan mengantarkan kita bertemu banyak orang dengan banyak pengalaman. Suatu waktu, mungkin kita akan melihat kesedihan seseorang yang lebih lebih dan lebih menyayat hati dari pada apa yang kita rasakan. Imbasnya, kita akan bisa bersyukur pada apa yang menimpa kita. Sebab, masih banyak kepedihan yang lebih menyakitkan dari apa yang kita rasakan. Ketiga, petualangan akan mengantarkan kita pada pengalaman dan pemahaman baru yang berguna bagi masa depan kita.

Terkait petualangan, novelis kondang Darwis Tere Liye mengungkapkan hal berikut:

Berpetualanglah, Anak Muda. Bawa ransel di punggung, berkelana. Tidak bisa jauh-jauh, maka bisa dekat dengan rumah, lihat sekitar. Tidak ada alasan jika sudah niat. Itu akan membuat kita paham banyak hal. Menghargai perbedaan. Menghormati orang lain. Continue reading