Uniknya  Bakso Ala-Ala Pulau Tagulandang

 

Bakso adalah salah satu makanan yang populer dan hampir disukai semua kalangan di Indonesia. Mulai dari dedek-dedek gemes sampai mami-papi ngehits pastinya doyan makanan berkuah ini. Saking populernya, kita akan mudah menemukan stand-stand penjual bakso di setiap sudut bumi pertiwi.  Namun, di tiap daerah di tanah air, komposisi dan rasa bakso berbeda-beda. Tentunya karena selera lidah tiap-tiap suku di negeri kita pun berbeda. Nah, kali ini saya akan membahas komposisi penyajian bakso ala Pulau Tagulandang. Pulau yang berada di Ujung Utara Provinsi Sulawesi Utara ini menyajikan bakso dengan tampilan dan rasa yang khas.

uniknya bakso

 

Bahan Dasar Bakso

Bakso di pulau ini kebanyakan di buat dari daging ikan. Ikan yang dipakai untuk membuat bakso pun bermacam-macam dari Ikan Deho (biasanya deho putih) sampai Ikan Cakalang. Jarang sekali ditemukan bakso berbahan dasar daging sapi. Alasannya, stok daging sapi hampir tidak ada di pulau ini. Pun kalau ada, kita harus membelinya dari pusat Kota Manado, yang hanya bisa ditempuh dengan kapal laut. Harga daging pun hampir dua kali lipat dari harga di Pulau Jawa. Sehingga, warga sulit menjangkau dan lebih memilih memakai bahan dasar ikan.

Bagi orang yang pertama kali menikmati bakso ikan, pasti merasa aneh. Karena aroma dan rasa ikan akan dominan di mulut. Teksturnya pun lebih lembut saat digigit, ini karena daging ikan tidak berserat seperti halnya daging sapi.

Kuah yang Super Kental

Kalau bakso-bakso di Pulau Jawa identik dengan kuahnya yang bening, maka kuah bakso di Pulau Tagulandang sangat berbeda. Kuahnya berwarna kekuningan, hasil perpaduan banyak bumbu dan daun-daunan. Pun terlihat mengkilat karena minyak yang dicampurkan. Aromanya pun menusuk hidung dan kuat terasa di mulut kita. Continue reading

7 TIPS MENGEMAS ‘GALAU’ DENGAN ELEGAN

tujuh tips mengemas galau

Tulisan kali ini terinspirasi dari curhatan seorang teman yang bertanya bagaimana agar kegalauan tidak sampai merugikan. Pasalnya, galau itu enggak enak buat diri kita. Nah, ditambah lagi kalau kita salah menyikapi si galau ini. Imbasnya malah bukan hanya merugikan pribadi kita. Tentunya berpengaruh pada pekerjaan, teman sekitar, dan hal lain yang boleh jadi penting bagi hidup kita.

Pertanyaannya, kenapa galau kita harus dikemas menjadi sesuatu yang elegan?. Saya mencoba menjawab dengan salah satu quotes Mario Teguh. Pak Mario berkata, “Galau yang menuju elegan disebut pendewasaan. Galau yang menuju norak disebut peng-alay-an”. Nah, umur semua orang tiap harinya bertambah tua. Seyogyanya kita segera menuju pendewasaan untuk mencapai tujuan hidup. Bukan malah menjadi alay yang identik dengan ABG. Bener kan?

Nah, berikut tips mengemas galau menjadi sesuatu yang elegan:

Hindari curhat bebas di sosial media.

Blak-blakan menyatakan kesedihan tentang pekerjaan, perasaan, atau apapun di sosial media sebaiknya dihindari. Karena, tiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Memposting suatu masalah/curhatan/kekecewaan yang ditujukan pada orang lain atau kelompok orang di sosial media menunjukkan kesan kurang dewasanya sikap kita. Karena perlu diingat, banyak sekali orang yang membaca postingan kita. Dan berapa banyak pemikiran yang muncul dari tiap orang. Tentu tidak semuanya positif, celakalah jika mereka malah dominan mempunyai persepsi negative pada kita.

Sibukkan Diri dengan Mengasah Kemampuan

Menyibukkan diri untuk membenahi kemampuan kita. Lampiaskan kegalauan kita pada pekerjaan atau keahlian yang kita miliki. Misalnya menciptakan lagu, melukis, menulis cerita, stand up comedy, berolahraga, dan lain sebagainya. Bahkan kalau bisa, ukir prestasi dari hal-hal tersebut. Banyak tokoh yang melahirkan karya dengan dilatarbelakangi kegalauan yang tak terperikan. Misalnya Raditya Dika, penulis, sutradara, stand up comedian, sekaligus aktor, yang mengawali karirnya dengan menulis kegalauannya akibat patah hati. Atau J.K. Rowling yang menulis serial ngehits Harry Potter di tengah kegalauannya hidupnya yang luar biasa.

Berpetualang

Orang yang galau cenderung mengurung diri dalam kamar sambil menangis mendengar lagu sedih. Nah, padahal mengurung diri seperti itu lebih mengundang kenangan-kenangan yang membuat kita galau. So, lebih baik kita keluar dari rumah untuk berpetualang.

perrjalanan

Karena petualangan akan mengantarkan kita pada banyak hal. Pertama, keindahan alam yang harus kita syukuri. Karena selama nafas kita berhembus, artinya Tuhan selalu menyanyangi dan beserta kita. Kedua, petualangan akan mengantarkan kita bertemu banyak orang dengan banyak pengalaman. Suatu waktu, mungkin kita akan melihat kesedihan seseorang yang lebih lebih dan lebih menyayat hati dari pada apa yang kita rasakan. Imbasnya, kita akan bisa bersyukur pada apa yang menimpa kita. Sebab, masih banyak kepedihan yang lebih menyakitkan dari apa yang kita rasakan. Ketiga, petualangan akan mengantarkan kita pada pengalaman dan pemahaman baru yang berguna bagi masa depan kita.

Terkait petualangan, novelis kondang Darwis Tere Liye mengungkapkan hal berikut:

Berpetualanglah, Anak Muda. Bawa ransel di punggung, berkelana. Tidak bisa jauh-jauh, maka bisa dekat dengan rumah, lihat sekitar. Tidak ada alasan jika sudah niat. Itu akan membuat kita paham banyak hal. Menghargai perbedaan. Menghormati orang lain. Continue reading

1st  Class Blogger Semut : Dasar-Dasar Menjadi Blogger

first

Tulisan ini berisi tentang keseruan kelas pertama di Komunitas Blogger Semut (9/01). Sebelum membahas first class, bagi yang belum tahu, saya akan membahas sedikit komunitas ini. Komunitas Blogger Semut adalah komunitas blogger online yang aktifitasnya dipusatkan pada grup facebook tertutup dengan nama Komunitas Blogger Semut. Sebuah komunitas yang digagas sebagai tempat bagi blogger untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, dan saling membantu  terkait dunia blog.

Sebagai orang yang belum lama terjun dalam dunia blog, saya antusias sekali menanntikan kelas pertama di komunitas ini. Sayangnya, saat hari-H tiba-tiba badan saya harus jatuh sakit dan melewati momen berharga. Tapi kabar baiknya, kelas ini adalah kelas online. Meski tidak bisa mengikuti pada waktu yang sudah ditentukan, saya bisa mengejar materi dengan membaca-baca sendiri materi yang disajikan. Pun bisa melihat diskusi yang heboh diperbincangkan. Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang menjadi fokus bahasan kelas pertama :

Langkah Menjadi Blogger

Jika ingin menjadi mahasiswa yang harus kita lakukan adalah mendaftar. Tapi, sebelumnya kita harus merencanakan dan memilih berbagai hal seperti di mana kita kuliah, jurusan apa, dan lain sebagainya agar kita bisa mencapai apa yang benar-benar kita inginkan inginkan. Pun juga, untuk menjadi seorang blogger pastinya kita harus mendaftar untuk memiliki blog. Tapi sebelum mendaftar, harus pula ada perencanaan terlebih dahulu. Tujuannya, agar kita bisa menjadi seorang blogger yang benar-benar kita inginkan. Bukan sekedar ikut sana-sini tanpa tahu mau dibawa ke mana blog kita nantinya.

Nah,  sebelum memulai membuat blog. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan di antaranya :aksi1. Menentukan Tujuan Pembuatan Blog

Penentuan tujuan pembuatan blog adalah hal yang harus benar-benar diperhatikan. Karena tujuan inilah yang akan mencerminkan seperti apa blog yang kita buat. Dari tujuan ini kita bisa menurunkan nama domain, maupun topik pembahasan. Pun, dari tujuan inilah akan terlihat sampai sejauh mana keseriusan kita untuk ngeblog. Dan jika tujuan kita jelas dan kokoh untuk memulai ngeblog. InshaAllah tujuan inilah yang akan menuntun kita kembali untuk ngeblog, jika suatu saat terhenti.

2. Memilih Nama Domain yang Kita Banget

Nama domain adalah sebuah nama yang akan sering disebut dan ditulis di mana-mana. Sebaiknya, carilah nama domain yang catchy sehingga saat orang mendengarnya saja sudah sangat penasaran terhadap isinya. Selain itu, usahakan nama domain yang dipilih itu kita banget dan selaraskan dengan pembahasan dalam blog. Intinya, pikirkan sebuah nama yang mudah diingat, tidak terlalu panjang, dan nama itu kamu banget. Teorinya mudah diucapkan, tapi saya yakin prakteknya tidak semudah itu. Jadi, kita bisa juga meminta saran kepada orang yang lebih berpengalaman untuk menemukan nama yang tepat. Continue reading

8 Hadiah dari Tuhan Lewat Mengajar Daerah Terpencil

Menjadi salah satu peserta Sarjana Mendidik Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal (SM-3T) merupakan karunia dari Tuhan yang pantas disyukuri. Mengapa demikian? Pertama, tidak semua yang berniat mengikuti program ini bisa lolos dalam seleksi. Kedua, ada beberapa orang yang lolos tapi tidak bisa berangkat. Hal ini karena suatu penyakit atau tidak mendapat restu kedua orang tua.  Dan tentunya, saat mengikuti SM-3T masing-masing peserta akan mendapat hadiah dari Tuhan atas apa yang diusahakannya. Mengenai hal ini, masing-masing orang tentunya diberi hadiah yang bermacam-macam.

Hadiah yang diberikan Tuhan pada saya lewat SM-3T sangat banyak. Tetapi yang paling berkesan yang akan saya paparkan.

Murid Kelas IV Yayasan Pendidikan Kristen Gmist Sion Bawoleu

Murid Kelas IV Yayasan Pendidikan Kristen Gmist Sion Bawoleu

 

  1. Kesempatan Mengajar Murid yang Benar-Benar Membutuhkan Guru

Menjadi guru di pedalaman akan berbeda rasanya dengan guru di perkotaan. Guru di pulau ini begitu dirindukan muridnya. Mereka rindu sekali kehadiran guru untuk memberikan ilmu. Karena di daerah seperti ini, tidak banyak guru yang ada. Berbeda dengan di kota. Guru sangat banyak jumlahnya. Tidak hanya di kelas, bahkan guru bisa dengan mudahnya ditemui di luar jam sekolah (guru les).

Karena sangat sedikitnya jumlah guru. Maka tidak heran bila guru di daerah ini akan mengajar dua tiga kelas secara bersamaan. Dan karena tidak efektifnya proses pembelajaran, banyak ditemukan murid yang kesulitan dalam membaca. Sehingga, kehadiran guru akan membuat murid bahagia. Berbeda dengan di kota. Kebanyakan siswa akan berdoa supaya guru tidak masuk sekolah.

  1. Sembuh dari Ketakutan untuk Memakan Ikan

Sebelum mengikuti SM-3T saya adalah seorang yang menghindari ikan. Ini sudah terjadi sejak saya kecil. Di rumah, hanya ayah dan ibu saja yang biasa memakan ikan. Saya dan kedua kakak tidak menyukai ikan. Bahkan kakak pertama saya hanya makan daging ayam. Selain itu, dia tidak mau makan dengan lauk hewani. Sedangkan kakak kedua saya hanya menyukai lauk hewani berupa udang. Saya? Hampir sama dengan kedua kakak, saya hanya memakan ayam, udang, dan sapi. Tidak mau ikan laut.

Nah, saat di lokasi prakondisi SM-3T seluruh peserta diwajibkan menghabiskan makanan. Tanpa sisa. Hanya dalam waktu beberapa menit. Kalau tidak, para pelatih (TNI di LANAL Malang) akan menghukum. Suatu pagi, terhidang nasi dan satu ekor ikan penuh. Ada kepala, badan, dan ekor. Berpikir saat itu akan protes, tapi waktu makan sudah dimulai. Saya tidak punya banyak waktu dan akhirnya terpaksa untuk memakannya.

Setelahnya, sebagian badanku gatal. Untungnya aku membawa pil penghilang rasa gatal. Hari berikutnya muncul lagi lauk ikan. Aku sebenarnya ingin curhat kepada teman-temanku. Tapi, karena belum terlalu mengenalnya. Aku diam saja. Sampai, ketiga kalinya aku memakan ikan. Tapi badanku tidak gatal. Dan, saat di daerah penempatan. Ternyata daerahku adalah pulau dengan makanan pokok ikan. Akhirnya, sampai saat ini aku tidak lagi takut memakan ikan. Tentunya tidak gatal juga saat memakannya. Alhamdulillah.

  1. Kesempatan Mengenal Pulau Tagulandang

Sejak lahir di Pulau Jawa, saya hanya memiliki kesempatan ke Pulau Bali. Dan saat mengikuti SM-3T Tuhan mengizinkan saya mengenal pulau selain Jawa dan Bali. Tagulandang namanya. Pulau Tagulandang kaya akan seni, budaya, dan bahasa yang masih kental. Beruntung sekali mendapat kesempatan menjadi bagian dari pulau ini.

  1. Keluarga Baru

Di tempat penugasan, kami memiliki orang tua asuh. Karena tidak semua sekolah terdapat rumah dinas untuk guru. Umumnya, guru SM-3T tinggal di rumah kepala sekolah. Tapi karena jarak rumah kepsek dan sekolah sangat jauh. Sehingga, aku tinggal di rumah salah seorang guru di dekat sekolah. Di sana, aku dianggap seperti anak mereka sendiri.

Selain itu, teman-teman SM-3T yang bertugas di Pulau Tagulandang juga seperti keluarga. Di situ kami saling menguatkan, mendukung, dan berbagi. Meski suatu ketika ada saja selisih paham. Tapi bukan hidup namanya jika ada suka tanpa duka. Continue reading

Tinutuan : Lezat, Sehat, dan Ngehits di Dunia

Tinutuan, atau yang lebih dikenal dengan nama hitsnya “Bubur Manado” adalah makanan khas yang berasal dari Sulawesi Utara. Meski berakhiran dengan kata Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara, namun makanan ini tidak hanya terdapat di sekitaran kota Manado. Makanan ini mudah ditemui hampir di ratusan pulau yang ada di Sulawesi Utara. Saya pribadi pertama kali mencicipi bubur ini bukan di Kota Manado. Melainkan di sebuah pulau kecil di ujung utara provinsi ini, yaitu Pulau Tagulandang.

Foto5194

Lezat : Menikmati Tinutuan Buatan Penduduk Asli Pulau Tagulandang

Menjadi salah satu peserta program SM3T (Sarjana Mendidik Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) selama satu tahun di Pulau Tagulandang membuat saya bersinggungan dengan Tinutuan. Tidak hanya bisa makan bubur ini sesering mungkin, saya juga berkesempatan belajar memasak sendiri bubur ini dari warga asli pulau. Berikut beberapa hal yang saya temukan terkait Tinutuan

Nama Lain dari Tinutuan

Selain dikenal dengan nama Bubur Manado, Tinutuan juga mempunyai beberapa nama yang cukup populer. Di antaranya adalah:

  1. Bubur Sehat

Tinutuan disebut dengan bubur sehat karena di dalam bubur ini terdapat bahan-bahan yang mengandung vitamin, mineral, dan serat yang sangat menyehatkan. Bahan-bahan pembuatannya terdiri dari berupa-rupa sayuran hijau seperti bayam, daun gedi, kangkung, daun kunyit dan daun sereh yang banyak mengandung vitamin A dan C. Selain itu, sumber karbohidrat tersusun dari labu kuning, singkong, ubi jalar, dan beras yang juga kaya akan gizi dan serat.

Karena sebutan bubur sehat ini pula, Tinutuan kerap dikonsumsi saat seseorang sedang dalam kondisi tidak fit. Selain itu, bubur ini baik dikonsumsi saat kita tengah menjalani program diet. Tentu saja, karena dalam bubur ini tidak terdapat daging atau lemak jahat yang dapat mengendap dalam tubuh. Di Pulau Tagulandang sendiri, ibu-ibu memberikan Tinutuan yang seluruh bagiannya dihaluskan untuk makanan bayi.

  1. Bubur Persaudaraan

Tinutuan sering pula dijuluki bubur persaudaraan. Alasannya, tidak lain karena bubur ini hampir selalu dihidangkan sebagai jamuan di berbagai acara yang diadakan warga sekitar. Berbagai kelompok masyarakat di Sulawesi Utara menjadikan bubur ini sebagai menu hidangan yang diyakini dapat merekatkan persaudaraan dan pergaulan.

  1. Campur

Nama ini populer di kalangan masyarakat Manado dan sekitarnya. Warga asli Sulawesi Utara, lebih sering menyebut bubur ini sebagai campur. Sebutan ini tidak lain karena semua bahan dicampur menjadi satu saat memasaknya. Selain itu, penyajiannya dalam mangkuk atau piring juga tercampur tanpa ada satu pun bahan yang dipisahkan.

Sejarah Tinutuan

Berdasarkan cerita yang saya dapat dari Ibu Herce Kangiras (Warga asli pulau yang berusia 83 tahun), Tinutuan sudah dibuat saat jaman penjajahan Belanda. Ibu delapan anak ini mengisahkan bahwa saat penjajahan Belanda, kondisi ekonomi warga jatuh dalam tingkatan terendah. Karena banyak peperangan di mana-mana, maka rakyat tidak sempat untuk keluar sekedar membeli bahan makanan atau mengambilnya di kebun. Tertekan keadaan itu, maka para ibu hanya memetik segala sayur-mayur dan ubi-ubian yang ada di kebun sekitaran rumahnya. Continue reading

Oto : Angkutan Umum  dengan Sensasi Disko

                Transportasi umum adalah salah satu hal yang dekat dengan rutinitas sehari-hari. Salah satu transportasi umum yang ada hampir di seluruh pelosok nusantara adalah angkutan umum. Baik di desa atau di perkotaan, angkutan umum menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat. Biasanya, berbeda daerah, berbeda pula ciri khas angkutan umum. Ciri khas itu di Pulau Jawa biasa ditunjukkan dari warna kendaraan, tulisan penunjuk daerah, atau jenis kendaraan yang digunakan.

                Berbeda dari beberapa ciri khas di atas, angkutan umum di Pulau Tagulandang menyajikan konsep yang unik. Dimulai dari nama yang khas yaitu oto, bahasa ibu pulau Tagulandang untuk kata mobil. Jadi jangan sekali-kali mencari angkot, mikrolet, atau metromini di tempat ini, karena dipastikan tidak ada. Hanya ada oto. Keberadaan oto pun sangat eksklusif, atau bisa dibilang sangat terbatas. Kita hanya bisa menemukan oto di hari selasa, kamis, dan sabtu bersamaan dengan adanya pasar harian. Intinya, keberadaan oto mengikuti keberadaan pasar di hari-hari tertentu.

DSCF6156

Penampilan Luar Oto (Dok. Tim SM3T IV Tagulandang)

Oto kebanyakan tidak berpenutup belakang. Bagian bodi kanan dan kiri memiliki rongga-rongga tidak berkaca  yang  unik. Tidak pernah saya temui di Jawa. Untuk menarik pelanggan, para supir memodifikasi oto sedemikian rupa. Mulai dari desain cat luar, langit-langit bagian dalam mobil yang dihiasi lampu dan karakter kartun, serta pengeras suara yang terpasang apik. Pengeras suara yang dipasang pada bodi dan interior dalam mobil pun kebanyakan bass. Sehingga saat musik diputar, maka bunyinya mendentum jauh sampai ke luar kendaraan.

Apalagi saat menjelang malam hari, lampu warna-warni yang tertata di setiap sudut mobil menyala menimbulkan efek cahaya mejikuhibiniu yang menari berputar-putar. Ditambah pilihan musik warga sekitar yang kebanyakan candu remix dan disko. Jadilah angkutan umum itu macam arena disko berjalan.  Lumayan, sebagai peramai sepinya jalanan tanpa lampu di pulau ini. Continue reading

Ritual  Tulude : Ajarkan Move On di Tahun Baru

Di kota-kota besar, tahun baru umumnya identik dengan perayaan yang ditandai dengan peniupan terompet, kembang api, pesta musik, atau makan-makan. Di mana-mana akan ramai sampai jalanan macet, karena semua orang berhambur untuk berlibur. Di sosial media pun tak kalah heboh, postingan tentang tahun baru mulai dari resolusi sampai momen perayaan ramai di-upload.

Dari berbagai momen tahun baru yang pernah saya lewati, yang paling bermakna dan membekas adalah perayaan tahun baru di Pulau Tagulandang (Sulawesi Utara). Saat lonceng ke-100 di gereja berbunyi, maka tahun baru resmi dibuka. Pada saat itu, masyarakat bersalam-salaman, untuk saling memaafkan atas apa yang telah terjadi di tahun yang telah lalu. Mengingatkan pada hari raya Idul Fitri bagi umat muslim.

DSCF5698

                      Suasana Upacara Adat Tulude (Dok. Tim SM3T IV Tagulandang)

Nah, setelah tanggal 1 Januari datang, masyarakat selanjutnya mengadakan upacara adat Tulude. Upacara adat untuk menyambut tahun baru yang biasa dilakoni masyarakat Sangihe Talaud (Ujung Utara Provinsi Sulawesi Utara). Ritual Upacara dilakukan atas kesepakatan masyarakat, entah dilakukan tiap RT, RW, kampung (desa), atau per kecamatan. Pelaksanaan bisa dilakukan sepanjang bulan Januari sampai Februari.

 Tulude merupakan tradisi yang kental sekali dengan nilai kebudayaan leluhur yang agung. Mengandung unsur spiritual dan bukan sekedar ekspresi spontan yang hedonis dan berujung pada kesenangan belaka. Tulude berasal dari kata ‘suhude’ (bahasa Sangir) yang berarti menolak atau mendorong. Lebih jauh, upacara Tulude dimaksudkan masyarakat untuk menolak terus bergantung pada apa-apa yang terjadi pada masa lalu, untuk kemudian siap menyongsong tahun yang baru. Kalau orang sekarang, Tulude itu bisa dipadankan dengan istilah move on, merelakan semua hal di masa lalu. Sehingga, langkah di tahun baru akan lebih ringan tanpa bayangan masa lalu tersebut.

DSCF5705

Prosesi Pemotongan Kue Adat Tamo (Dok. Tim SM3T IV Tagulandang)

Beruntung saat bertugas di Pulau Tagulandang saya berkesempatan melihat sendiri acara Tulude dalam berbagai versi. Salah satunya adalah pesta adat Tulude yang diadakan di Kelurahan Bahoi. Saat itu, acara bertema ‘Melestarikan budaya adat adalah aktualisasi kepribadian bangsa yang bermartabat’ (13/12/2015). Meski hanya tingkat kelurahan, namun Bupati Kabupaten Sitaro, Toni Supit dan Istrinya turut hadir memeriahkan acara.

Acara dimulai dengan penyambutan kedatangan bupati dan rombongan oleh tetuah adat setempat diiringi tarian budaya. Dilanjutkan dengan prosesi Muhiang Sake, pemotongan kue adat Tamo (Manuwang Kalu Tamo), pembawaan ucapan oleh tokoh adat (Manahulending Wanua), Sasasa, serta Saliwang Wanua yang berlangsung dalam bahasa etnis Sangihe dengan dialeg sub etnis Tagulandang. Meski saya tidak sepenuhnya mengerti karena bahasa yang digunakan berbeda dari percakapan sehari-hari, saya sangat dibuat kagum oleh kekhasan budaya Indonesia yang satu ini. Yang saya tahu, inti dari seluruh prosesi adalah ucapan syukur dan permohonan pada Tuhan untuk diberikan perlindungan serta pertolongan.

Keceriaan Masyarakat Saat Melakukan Tarian Adat Empat Wayer

Keceriaan Masyarakat Saat Melakukan Tarian Adat Empat Wayer

Rangkaian acara Tulude tidak berhenti di malam itu. Melainkan dilanjutkan di malam berikutnya yaitu acara menari empat wayer (tari berpasangan dua orang-dua orang) semalam suntuk. Tarian ini dilakukan sebagai wujud suka cita masyarakat untuk menyambut tahun baru. Berbeda dengan Kampung Bahoi, acara Tulude di Kampung Bawoleu lebih praktis pelaksanaannya. Masyarakat Bawoleu lebih menekankan pada ibadah syukur yang digelar mulai dari tingkat lindongan (lingkungan), jemaat-jemaat, organisasi, dan kelompok masyarakat lainnya.

Terlepas dari bagaimana versi pelaksanaan upacara adat Tulude di Pulau Tagulandang, yang jelas masyarakat pulau mengerti makna perayaan tahun baru. Mereka memahami bahwa tahun yang telah berlalu telah menjadi masa lalu. Pahit manisnya, tetap harus disyukuri sehingga kita tidak perlu menenggok lagi ke belakang. Untuk kemudian bisa ringan untuk berpindah atau move on ke tahun yang baru.

Happy move on guys 😀

 

Baca Artikel Lainnya :

Menjadi Blogger : Tentang Alasan, Mimpi, dan Harapan